WHEN YOUR LIFE KEEPS MOVING BUT YOUR ENERGY STOPS
Kenapa tubuh saya terus terasa lelah meski sudah tidur 8
jam sehari? Kenapa kondisi saya seperti mayat hidup; hanya sekadar
hidup tanpa merasa hidup?
Maknai Hidup Dengan Belajar Sepanjang Hayat
Kenapa tubuh saya terus terasa lelah meski sudah tidur 8
jam sehari? Kenapa kondisi saya seperti mayat hidup; hanya sekadar
hidup tanpa merasa hidup?
Pernahkah Anda merasa takut berdiri di atas panggung atau saat berbicara di depan banyak orang? Mungkinkah Anda pernah ditunjuk untuk memegang posisi tertentu, tetapi Anda berpikir Anda tidak pantas atau tidak berani menerimanya? Ataukah Anda sadar bahwa Anda mungkin sedang stuck, berada di zona nyaman tanpa mencoba meraih pencapaian lain atau menghadapi tantangan baru?
Ada satu karunia
sekaligus kutukan di dunia investasi saat ini: informasi tersedia dengan
begitu instan, bebas, dan tanpa batas. Tidak jeli dan tak hati-hati dalam
menyerap informasi bisa berujung bencana. Pasar kian sering menjelma menjadi monster kolektif, memangsa
mereka yang FOMO dan gemar mengikuti kerumunan.
"Naomi Tickle adalah Master Face Reader yang
cerdas. la mengajarkan pengenalan ekspresi wajah dengan mudah dan menyenangkan,
ilmu tersebut dapat diterapkan pada seluruh aspek kehidupan dengan tingkat
akurasi yang tinggi!" -Nanda Vermoorder, Face Reader
Cara berpikir seseorang menentukan kualitas hidupnya. Pikiran yang dipenuhi hal-hal negatif akan memengaruhi sikap dan keputusan kita menjadi negatif pula. Ini tentu dapat menurunkan kualitas hidup kita.
Selesai dengan diri sendiri
memberikan gambaran kepada kita tentang karakter pribadi yang harus dicapai
oleh setiap orang dalam hidupnya. Sebab ada begitu banyak keputusan besar dalam
hidup yang akhirnya dihubungkan dengan frase selesai dengan diri sendiri ini.
Sebagai generasi yang hidup di dua dunia, nyata maupun maya, Gen Z
memiliki segudang keunggulan. Namun, tantangan dan tekanan yang harus mereka
hadapi juga tidak kecil, seperti informasi yang datang tanpa henti, standar
& biaya hidup yang terus meninggi, perbandingan yang terus berkelanjutan,
peluang yang makin sempit sementara persaingan justru makin ketat, hingga
ekspektasi yang seakan tak ada habisnya. Inilah yang kemudian membuat Gen Z
jadi rentan stres dan cemas.
Dalam buku ini, pembaca diajak menembus lapisan-lapisan emosional yang
selama ini menyelimuti hubungan dengan uang dan keuangan pribadi. Melalui
rangkaian teori, latihan kontemplatif, dan praktik nyata, buku ini membuka
pintu bagi setiap individu untuk mengupas
luka trauma finansial dan mengubahnya menjadi sumber kekuatan.
Buku ini bukan mengajak anda berlari lebih cepat,
melainkan berhenti sejenak agar tidak
kehilangan arah.
Anda bekerja, bertanggung jawab,dan terus melangkah.
Namun ada lelah yang tidak selalu berasal dari pekerjaan. Ada hampa yang muncul
justru saat hidup tampak baik-baik saja.
Kita berusaha membalas setiap pesan. Mengikuti postingan
orang-orang di berbagai aplikasi. Gonta-ganti gadget agar bisa menyelesaikan
semua urusan. Itulah yang dinamakan kelelahan digital.